Pengakuan Tukang Sulap Keliling di Banyumas Pagari Rumah Pakai Seng Karena Takut Covid-19

Rumah Sabar Suharno (54) kini menjadi perhatian warga Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas Bagaiamana tidak, pria yang sebelum pandemi Covid 19 berprofesi sebagai tukang sulap keliling ini memasang pagar seng mengelilingi rumahnya untuk mencegah virus menyerang keluarga. Menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan memakai sabun, dan menjaga jarak) di anggap Sabar tak cukup untuk melindungi diri dan keluarga dari penularan Covid 19.

Sabar pun mengakui dirinya sangat khawatir tertular virus corona. Itu sebabnya, dia memasang seng berukuran 12 x 9 meter mengelilingi depan dan samping halaman rumah, sejak dua pekan lalu. Bahkan, untuk memantau pergerakan orang luar yang akan masuk dan berlalu lalang di depan rumahnya, Sabar memasang kamera pengawas atau CCTV di setiap sudut rumah.

Jendela jendela rumah yang langsung menghadap keluar rumah juga ditutup seng. Untuk kebutuhan makan sehari hari, dia membeli dari pedagang keliling dari dalam seng. Sementara anaknya, membeli secara daring.

Sabar berkomitmen memagari rumahnya menggunakan seng sampai wabah Covid 19 dinyatakan terkendali. Sabar mengungkapkan, ketakutannya tertular Covid 19 ini bukan tanpa alasan. Dia berpatokan pada data yang disuguhkan pemerintah dan kondisi di Banyumas, dimana jumlah kasus Covid 19 terus menanjak.

"Setahu saya, di desa sini, sudah hampir 50 orang yang positif. Artinya, virus ini sangat dekat dan nyata," ucapnya. Alasan lain, dia ingin menjaga kesehatan anaknya yang akan pergi ke Mesir. "Dua anak saya hafiz, satu di antaranya akan pergi ke Mesir dalam waktu dekat ini untuk belajar. Jadi, saya ingin melindungi dia," katanya.

Cara memagari rumah menggunakan seng agar terhindar dari corona, memang dipandang orang, unik dan tidak biasa. Namun, menurut Sabar, setidaknya, dia telah berusaha melindungi kesehatan lewat caranya. "Saya memang ada ketakutan berlebih dan takut tertular Covid 19. Kalau bukan warga sekitar (yang bertamu), saya tidak membukakan pintu. Komunikasi saya batasi dari balik seng, saya pantau lewat CCTV," terangnya.

Sebelum pandemi melanda, Sabar berprofesi sebagai tukang sulap keliling di Banyumas. Namun, wabah membuat permintaan melakukan sulap berkurang. Dia lebih banyak beraktivitas di dalam rumah dan beralih profesi menjadi seorang Youtuber.

"Ada lima kanal Youtube yang saya kembangkan. Alhamdulillah, dari April lalu, penghasilan terbesar saya per bulan mencapai Rp 10 juta dari Youtube itu," ujarnya. Channel Youtubenya berisi tentang ramalan kartu tarot, zodiak, dan konten misteri. Hari harinya dihabiskan membuat konten Youtube tentang kartu tarot dan ramalan zodiak.

Channel Youtubenya kini memiliki 90 ribu subscriber. Karena banyaknya subscriber itu, banyak orang yang berkomentar dan ingin diramal kehidupannya. Hingga akhirnya, dia juga membuka jasa konsultasi secara online.

"Kanal saya, Sabar Misteri dan Sabar Tarot. Itu yang menghasilkan uang. Seluruhnya dilakukan dari dalam rumah, dibuat di HP (handphone), saya edit dibantu keponakan juga," jelasnya. Penghasilannya juga sering digunakan untuk membeli telur dan dibagikan untuk warga sekitar. Menurut Sabar, tak ada warga yang protes ataupun mengkritik cara dia menghindarkan diri dari penularan virus corona.

Termasuk, tak ada tanggapan dari ketua RT setempat. Meski, memang ada yang menilai, caranya melindungi diri itu berlebihan. Yang dia lakukan adalah menjelaskan kepada tetangganya jika ini untuk kebaikan bersama.

"Saya tidak mengambil pusing dengan tudingan negatif dari tetangga," tuturnya. Pandemi covid 19 benar benar menimbulkan ketakutan luar biasa bagi Sabar Suharno (46), warga RT 002 RW 010, Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, demi melindungi keluarganya dan sekaligus mencegah tertular virus corona, Sabar menutup rapat pekarangan rumahnya dengan seng.

Selama dua pekan terakhir, Sabar bersama istri dan ketiga anaknya membatasi interaksi dengan orang luar. Karena dikelilingi seng, praktis bagian depan rumah Sabar yang berada di kawasan permukiman padat penduduk itu tidak terlihat sama sekali, kecuali lembaran seng yang mengelilingi rumah. Pada bagian pojok, disediakan pintu kecil untuk akses kelur masuk.

"Saya sering melihat berita berita tentang Covid 19, jadi ketakutan saya lebih dari warga yang lain," kata Sabar saat ditemui di rumahnya. Ketakutan Sabar semakin menjadi ketika beberapa pekan lalu, tetangganya ada yang terpapar Covid 19. "Covid 19 ini sudah di depan mata. Begini saja (menutup rumah dengan seng) saya tidak yakin bisa terlindungi, tapi ini sudah upaya paling maksimal," ujar Sabar.

Tak hanya menutup rumah dengan seng, Sabar juga rela merogoh kocek untuk memasang CCTV di sekeliling rumah. Tujuannya supaya dapat melihat orang yang akan berkunjung ke rumahnya. "Kemarin ada teman saya yang dari luar kota mau mampir ke sini, tapi tidak saya perbolehkan, sudah dekat sini padahal," kata Sabar.

Interaksi dengan tetangga pun, jika dianggap tidak urgent dilakukan dari balik pagar seng. Di balik pagar seng sisi dalam rumah telah disediakan kursi kecil sebagai pijakan ketika berinterkasi dengan tetangganya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, Suharno mengandalkan pedagang keliling.

"Di sini banyak pedagang keliling, ada sayur dan lainnya. Kadang anak anak juga order lewat ojek online," kata pria yang berprofesi sebagai pesulap keliling ini. Suharno mengaku tidak terlalu mempersoalkan respons warga atas sikapnya tersebut. Ia juga mengaku telah meminta izin ketua RT setempat untuk menutup rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.