Dari Budidaya Ikan Lele, Gibran Huzaifah Sukses Pimpin Startup Fishtech Terbesar di Dunia

Adagium “hasil tidak akan mengkhianati usaha” tampaknya begitu tepat menggambarkan perjuangan Gibran Huzaifah dalam mengembangkan bisnis startup eFishery . Berkat usahanya, kini eFishery melesat jadi startup di bidang teknologi perikanan terbesar di dunia. Berawal dari tragedi kelaparan yang pernah ia alami semasa masih berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia mulai memupuk harapan untuk menjajal dunia entrepreneurship di sektor agrikultur, di mana ia memiliki visi untuk mengentaskan kelaparan di Indonesia.

Berbagai cara dilakukannya untuk mengasah kemampuan entrepreneurship dalam dirinya, mulai dari berjualan hingga mengambil kerja sampingan. Pada awalnya, keputusan membuat bisnisnya sendiri di bidang perikanan ia dapatkan saat sedang mengikuti mata kuliah akuakultur. Mendalami akuakultur adalah titik balik di hidupnya. Dari situlah Gibran mendapatkan inspirasi untuk menjadi petani ikan dan membudidayakannya.

Alumni mahasiswa jurusan biologi di SITH ITB ini memulai ceritanya dalam dunia bisnis dengan beternak ikan lele. Berkat konsistensinya menggemari hal tersebut, ia sukses mengembangkan bisnisnya tersebut dari yang hanya memiliki satu kolam hingga menjadi puluhan kolam. Tak puas dengan pencapaiannya, Gibran memutar akal agar usahanya menjadi lebih berkembang lagi. Ia bercerita bahwa kondisi budidaya ikan pada saat itu berpotensi sangat besar, namun tidak ada yang mau untuk mengembangkannya. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi Gibran untuk membuat teknologi di bidang perikanan dengan mendirikan eFishery .

Awalnya, masalah utama yang dihadapi oleh Gibran dan pembudidaya ikan lain adalah persoalan pangan ikan yang dibudidayakan. Masalah pangan ikan ini disebabkan oleh mahalnya harga dan akses dari pangan ikan tersebut. Gibran pun menciptakan sebuah teknologi IoT berupa alat pemberi makan ikan otomatis atau feeder canggih dengan sensor yang mampu mendeteksi nafsu makan ikan. Feeder tersebut jadi jawaban dari masalah pangan ikan yang dialami Gibran dan pembudidaya ikan lainnya.

Alhasil, dengan pengembangan teknologi tersebut, eFishery bisa berkembang sampai sekarang. Tak hanya menjawab masalah pangan ikan, startup fishtech ini juga turut menjadi solusi mengatasi masalah fundamental dalam industri perikanan dengan menyediakan teknologi dengan harga terjangkau lainnya, juga untuk mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi melalui ekonomi digital yang inklusif bagi para pembudidaya ikan di Indonesia. Semua pencapaian yang Gibran dapatkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada awalnya, ia mengalami kesulitan untuk mengembangkan bisnisnya.

Mulai dari sulitnya mendapat atensi dan dukungan dari para pembudidaya ikan lainnya hingga kehabisan modal pada tahun awal berdirinya eFishery . Para pembudidaya ikan tidak serta merta tertarik dengan teknologi IoT yang ditawarkan Gibran. Mereka terbiasa dengan cara konvensional dalam membudidayakan ikan selama puluhan tahun sehingga tidak merasa memerlukan teknologi tersebut.

Namun, Gibran tak patah arang, ia melakukan pendekatan personal ke para pembudidaya. Hasilnya, ia bisa mengajak para pembudidaya untuk menggunakan teknologi IoT dari eFishery dengan meyakinkan bahwa pembudidaya akan mendapatkan keuntungan lewat panen ikan yang lebih cepat dan kemudahan penggunaannya dengan teknologi tersebut. Masalah lain yang dihadapi Gibran adalah soal sulitnya mendapatkan modal di tahun pertama bisnis startup miliknya berdiri.

Setelah kurang lebih satu tahun berdiri Gibran kehabisan modal dan terpaksa tidak bisa menggaji karyawannya. Namun, ia dikelilingi oleh tim dan karyawan yang tetap mau bekerja untuk berjuang di masa sulit tersebut. Barulah pada bulan berikutnya, Gibran mendapatkan titik terang dengan adanya project baru dan modal pendanaan untuk pengembangan eFishery . Berhasil melewati tersebut, Gibran menegaskan bahwa mendirikan startup bukan semata mata hanya soal keuntungan.

Ia percaya startup yang didirikannya harus mampu memberikan dampak dengan nilai nilai positif. EFishery hadir sebagai sebuah inovasi teknologi perikanan untuk para pembudidaya ikan dengan menyediakan teknologi pemberian pangan hingga membantu penjualan hasil budidaya ikan tersebut. Menurut Gibran, dalam mendirikan sebuah startup penting bagi kita untuk memulai dari suatu masalah.

Dengan latar belakang permasalahan yang dialami oleh para pembudidaya ikan, ia dan timnya berhasil untuk mencetuskan ide ide di bidang teknologi perikanan. Alhasil, tak hanya berbuah sebuah teknologi, kini eFishery mampu memberikan banyak kesempatan bagi para pembudidaya ikan untuk berkembang. Lewat pengalamannya tersebut, Gibran yakin bahwa Indonesia memiliki masalah yang berpotensi diselesaikan dengan inovasi. Menurutnya, ada banyak peluang bagi para perintis bisnis startup untuk turut berkontribusi menyelesaikan masalah yang ada, baik lokal dan nasional.

Ia berharap, kelak akan muncul berbagai inovasi yang dapat menyelesaikan masalah melalui kontribusi dari para startup lokal seperti yang telah eFishery lakukan. Gibran menjadi salah satu startup founder yang berhasil mengembangkan bisnis startup yang berangkat dari masalah kecil hingga menjadi bagian dari Forbes 30 Under 30 Asia 2017 dengan hadirnya eFishery sebagai startup fishtech terbesar di dunia. Sama seperti Gibran, kamu juga dapat berkontribusi terhadap masalah sekitar lewat bisnis startup yang kamu bangun.

Sekarang saatnya untuk kamu dan para startup enthusiast di luar sana yang ambil bagian untuk berkiprah di skala nasional. Dengan ikut dan menjadi bagian dari kompetisi LokalCorn, para pendiri startup lokal berpeluang untuk mendapatkan pendanaan senilai ratusan juta rupiah serta berkesempatan langsung dimentori para jagoan startup , termasuk Gibran, yang tergabung di Rocket Team . Segera daftarkan tim startup kamu dan dapatkan kesempatan pendanaan serta pengalaman dari Gibran dan para founder startup lainnya di kompetisi LokalCorn. Klik untuk ambil langkah jadi the next unicorn!

Leave a Reply

Your email address will not be published.